Sepanjang satu bulan terakhir, The Fiery Trial menjadi buku yang menemani perjalanan ulang-alik sebagai penumpang komuter KRL Jabodetabek dan pengantar tidur yang menyenangkan disela kegiatan rutin meninabobokan si orok yang kerap menuntut sebotol susu sebelum ia kembali tidur lelap.

Dalam banyak hal, saya merasa perlu berterimakasih terhadap Eric Foner yang telah menulis karya menarik ini. Melalui buku ini Foner berhasil mengajak saya untuk tetap fokus pada persoalan yang diuraikannya dengan menarik tentang Abraham Lincoln sebagai presiden ke-16 Amerika Serikat. Sesuatu yang menarik tentang Lincoln, tulis Foner, adalah kemampuan pribadinya untuk terus berkembang. Horison berpikirnya pun terus bergerak maju mengikuti gerak zaman.

Lincoln tampil dengan kapasitas itu menjadi negarawan dengan posisi unik dalam sejarah politik Amerika Serikat. “Para politisi, mulai dari kalangan konservatif sampai komunis, aktivis-aktivis hak sipil dan pendukung segregasi, anggota gereja Protestan dan kaum tak beragama, semua mengklaim bahwa Lincoln adalah milik mereka.” Foner lalu menambahkan catatan menarik sebagai sejarawan, “Kita menganggap mengenal Lincoln, karena saat melihat sosoknya, sesungguhnya kita sedang menemukan diri kita sendiri. Dalam kaitan ini Lincoln senantiasa relevan. Ia adalah sosok masa kini dalam hidup kita” (xv).

II

Eric Foner adalah sejarawan dengan fokus kajian pada periode perbudakan dalam sejarah Amerika Serikat. Ia pernah menjabat sebagai ketua American Historical Association, dan mengajar di jurusan sejarah di Columbia University. Foner adalah murid Howard Zinn, sejarawan terkemuka AS, sosialis dan aktivis anti perang, dengan karya berjudul A People’s History of the United, yang memecahkan rekor penjualan buku sejarah paling laris di AS.
Seperti gurunya, Foner bukan sekedar seorang sejarawan yang disibukan dengan upaya mengejar karir profesional. Ia adalah pengajar sejarah dengan keyakinan bahwa “pengajaran yang baik terletak pada kepedulian yang tulus dan kemampuan menyampaikan kecintaan terhadap sejarah kepada para mahasiswa.”* Ia juga seorang aktivis dan intelektual dengan kepedulian terhadap beragam masalah sosial dalam kehidupan kontemporer masyarakat Amerika Serikat.
Buku ini terus menyisakan sejumlah pertanyaan dan dorongan menjelajah lebih lanjut terhadap persoalan yang menjadi pokok bahasannya. Ini memang ciri sebuah buku yang baik. Mungkin saja penilaian ini relatif dan sangat tergantung pada siapa pembacanya. Namun, saya akan mengatakan bahwa setelah menghabiskan halaman demi halaman buku ini, beragam obsesi bergulir dalam benak pribadi. Ada sejumlah keinginan mengikuti cara Foner melukiskan sosok individu dalam sejarah. Lincoln tampil apa adanya. Foner pun menjelaskan tanpa rasa sungkan atau hasrat menjadikan manusia biasa menjadi mahluk setengah dewa. Setiap peristiwa tampil dengan detail fakta yang kaya–tanpa jatuh pada sekedar uraian peristiwa dan perbuatan–yang menjadikan masa lalu seperti peristiwa kemarin sore dengan pengaruh yang secara subyektif terasa dalam kehidupan hari ini.
Membaca buku ini membawa pada tamasya pandangan terhadap berbagai persoalan tentang bagaimana sikap seorang pemimpin terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Sekarang ini Lincoln telah menjadi sosok pembebas perbudakan dalam sejarah AS. Ada setengah kenyataan dan ada pula setengah mitos dalam kesadaran sejarah orang Amerika tentang Lincoln. Seperti yang ditunjukkan Foner, sejak masa awal keterlibatannya dalam dunia politik, Lincoln sesungguhnya bukan seorang pendukung emansipasi. Bahkan terdapat pandangan-pandangan pribadi Lincoln yang memiliki kecenderungan rasial dan diskriminatif terhadap warga kulit hitam. Foner menunjukkan gambaran ini bahkan sampai tahun-tahun awal Lincoln menjabat sebagai presiden AS. Beberapa kebijakan Lincoln selaku presiden juga memiliki aspek yang merugikan para pendukung abolisionis yang menginginkan segera penghapusan perbudakan di AS saat itu.
Foner menampilkan bahwa Lincoln adalah seorang politisi yang penuh perhitungan. Sepanjang periode perang saudara antara Unionis (mewakili kekuatan pemerintah federal dari pihak utara) dan Konfederasi (yang menginginkan pemisahan diri dan mempertahankan lembaga perbudakan di bagian selatan), desakan-desakan untuk membuat kebijakan drastis dari kedua belah pihak mengalir tanpa henti. Lincoln bergeming. Ia memiliki kesadaran penuh bahwa “membuat sebuah kebijakan yang tidak dapat dijalankan hanya sekedar menunjukkan kelemahan pribadi dan membuka pintu serangan lawan-lawan politiknya.” Bagaimanapun, seperti ditunjukkan Foner, apabila kita menilai seluruh kebijakan yang pernah dibuat Lincoln sepanjang periode jabatannya sebagai presiden, terdapat sebuah garis yang menggambarkan sebuah gerak maju dalam setiap kebijakan yang dibuatnya. Kebijakan yang dibuatnya pun utuh tanpa menyisakan kesempatan bagi lawan-lawan politik Lincoln untuk menekan mundur.
Apabila pada masa awal perang saudara landasan moral peperangan itu berpijak pada persoalan “menjaga keutuhan” dari ancaman pemisahan diri negara bagiannya, sampai periode akhir perang landasannya berubah menjadi “perang membebaskan perbudakan.” Dalam kaitan ini keputusan-keputusan Lincoln menjadi tonggak yang mengokohkan laju pergerakan tersebut. Apabila kebijakan-kebijakan Lincoln pada masa awal terkait masalah perbudakan berisi konsesi dan tawaran kepada pihak Konfederasi dan negara-negara bagian di selatan lainnya untuk “dengan sukarela mengakhiri perbudakan dengan kompensasi terhadap budak yang mereka bebaskan,” menjelang akhir perang Lincoln membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang menjadikan keputusan penghapusan total perbudakan dalam kehidupan masyarakat Amerika tanpa konsesi apapun.
Begitu juga dengan persoalan lain yang muncul seiring bergulirnya tuntutan penghapusan perbudakan. Meski orang-orang kulit putih dari pihak utara menginginkan penghapusan perbudakan, tetapi mereka juga tidak menginginkan keberadaan budak-budak kulit hitam yang telah dibebaskan dalam kehidupan masyarakat mereka. Agenda kolonisasi (seperti Haiti dan wilayah Karibia lainnya) menyiapkan tempat baru bagi pemukiman budak yang telah dibebaskan merupakan langkah yang paling diterima para politisi dan kalangan masyarakat kulit putih di utara dalam seruan anti perbudakan mereka. Seperti kebanyakan warga kulit putih lainnya, Lincoln pun berada dalam arus pemikiran ini. Sepanjang dua pertiga masa pemerintahannya ia mencanangkan agenda sebagai jalan keluar setelah penghapusan perbudakan. Sedikit perbedaan dalam visi Lincoln tentang kolonisasi adalah penempatan budak yang telah dibebaskan di koloni-koloni baru harus dilakukan secara “sukarela.”
Gagasan tentang kolonisasi terus mewarnai kebijakan Lincoln bahkan sampai ia menandatangani keputusan penghapusan perbudakan di AS. Bagaimanapun, seperti disampaikan Foner yang menegaskan aspek penting kenegarawanan Lincoln, visi pribadi dan kebijakan politik Lincoln selalu berubah. Namun, ini bukan sebuah perubahan yang menarik mundur langkah maju, tetapi sebuah perubahan yang memancang tiang-tiang yang kokoh untuk gerak maju sejarah tak tertahankan. Sampai akhir periode perang saudara, Lincoln meninggalkan ide kolonisasi dan memulai pandangan baru bahwa para budak yang dibebaskan akan tetap tinggal dan diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat.

III
Meski sudah ada lagi satu buku lain yang saya habiskan setelah membaca karya Foner, kepiawaian Foner sebagai sejarawan tetap meninggalkan jejak yang mengusik pikiran. Pertama, secara pribadi saya mencanangkan sebuah rencana pada suatu hari nanti untu menulis dalam gaya yang disampaikan Foner, terlepas siapa sosok penting yang akan menjadi pembahasan. Karya Foner menggarisbawahi sebuah adagium lama bahwa tidak ada yang abadi dalam perembangan sejarah selain perubahan itu sendiri.
Kedua, saya memandang buku ini layak menjadi buah tangan bagi para pemimpin politik di Indonesia saat ini. Kemampuan untuk “berubah” memang telah menjadi bagian penting dari tindakan seorang pemimpin dan politisi di berbagai belahan dunia. Namun, kita berharap bahwa perubahan itu mewakili gerak maju perubahan sejarah yang jauh lebih besar dari sosok individunya, bukan sekedar metode bertahan dalam panggung kekuasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.