Catatan Awal Penerbitan Jurnal Sejarah Online

Kepekaan bibliografi, pemahaman terhadap historiografi dan karya tulis berdasarkan tinjauan kolega (peer review) adalah syarat pokok yang mencirikan seorang sejarawan profesional. Pandangan ini ditegaskan Abdurachman Soerjomihardjo dalam  tulisan pengantar di edisi perdana Jurnal Sejarah (Vol. 1 Tahun 1991).

Kesadaran itu pula yang mendorong Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) sebagai organisasi profesi sejarawan menerbitkan Jurnal Sejarah sebagai media komunikasi yang melengkapi syarat penting keahlian profesional mereka.

Bagaimanapun, proses ini tidak mudah. Sampai dua dekade setelah penerbitan edisi awal Jurnal Sejarah, proses peer-review yang melibatkan para sejarawan di bidang keahlian masing-masing masih belum bisa terlaksana secara ideal.

Meski bukan berarti tidak ada karya bermutu yang pernah terbit dalam Jurnal Sejarah edisi-edisi terdahulu (malah banyak tulisan-tulisan dengan gagasan segar di dalamnya), tetapi perkembangan yang ada saat itu terpaksa membawa arah penerbitan jurnal tersebut menjadi majalah ilmiah populer dibanding penerbitan bersifat akademis.

***

Ketiadaan sebuah jurnal yang mewakili perkembangan kemajuan studi sejarah dan profesionalisme sejarawan Indonesia menjadi perhatian utama kepengurusan baru MSI periode 2016-2021.  Agendanya bukan saja sekedar menghidupkan kembali media tersebut, tetapi juga meningkatkannya menjadi sebuah jurnal ilmiah yang menjadi tolok ukur perkembangan kajian sejarah Indonesia.

Ada tiga alasan penting yang melatari keputusan ini.

Pertama adalah kenyataan bahwa studi sejarah Indonesia telah mengalami perkembangan pesat dibanding dua dekade silam.

Kedua, pada tingkat pendidikan pasca-sarjana, para calon sejarawan telah diwajibkan menulis sebuah artikel ilmiah di jurnal yang terakreditasi secara nasional dan internasional.

Ketiga, peraturan mutakhir tentang jurnal yang harus tersedia secara online memberikan kemudahan untuk memangkas biaya terbit yang harus dikeluarkan pengelola.

Keseluruhan latar belakang ini pada akhirnya membentuk optimisme bagi pengurus MSI untuk  meningkatkan Jurnal Sejarah menjadi sebuah jurnal akademis yang terakreditasi secara nasional dan internasional.

Keyakinan ini semakin kuat dengan dukungan para sejarawan tentang Indonesia di luar Indonesia. Kesediaan mereka sebagai reviewer internasional disertai pula keinginan tulus membantu para sejarawan muda di Indonesia mengembangkan karir profesionalnya.

Beberapa pernyataan yang disampaikan menyampaikan dengan nada haru bahwa pada akhirnya, “Negeri sebesar Indonesia ini pada akhirnya (meski sangat terlambat) memiliki sebuah terbitan sejarah berbasis peer-review on their own” tulis seorang reviewer dalam tanggapannya.  Reviewer lainnya menyatakan bahwa penerbitan ini menjadi tanda  kesiapan para sarjana sejarah Indonesia “memasuki gelanggang  internasional”.

Selain itu, upaya menjadikan Jurnal Sejarah sebagai jurnal ilmiah dilandasi pula oleh kebutuhan saat ini  untuk menjadikan karya-karya tulis para sejarawan Indonesia masuk dalam sistem pengindeksan yang diakui secara internasional.

***

Keseluruhan dukungan yang muncul menepis sejumlah keraguan dari rangkaian pertanyaan berikut: Apakah para sarjana di Indonesia bersedia  menulis di sebuah jurnal tanpa dibayar selain keinginan berbagi dan mengembangkan pengetahuan sejarah? Apakah para sejarawan Indonesia bersedia menyumbangkan karya tulis mereka untuk mengisi jurnal yang masih dalam tahap persiapan menjadi jurnal terakreditasi? Apakah para penulis di Indonesai bersedia menulis sebuah naskah yang tidak sekedar menanggapi peristiwa-peristiwa aktual yang mendongkrak popularitas, tetapi lebih mewakili produk kesarjanaan mewakili bidang studi penulisnya?

Melalui penerbitan Jurnal Sejarah, tim editorial berharap generasi baru sejarawan Indonesia bersedia turut serta mendorong kemajuan pengetahuan sejarah dan kajian sejarah di Indonesia . Semua tergantung pada kerja kolegial, kritisisme, pertukaran informasi dan tanggapan  sejawat sebagai landasan penting perkembangan pengetahuan sejarah. Hanya dalam iklim seperti ini kemajuan ilmu sejarah di Indonesia dapat dilakukan.

Sebagai langkah awal memulai tradisi ini, Jurnal Sejarah mengundang para peneliti, pengajar, dan mahasiswa pasca-sarjana di bidang sejarah dan sarjana dalam rumpun kajian humaniora dan ilmu sosial untuk turut menyumbang tulisan  dalam edisi penerbitan Jurnal Sejarah Vol. XV No. 1 Tahun 2017.

***

Memulai adalah hal mudah. Menjaga dan memelihara pekerjaan yang telah dimulai untuk terus berlangsung adalah perkara lain. Undangan menulis ini dengan demikian bukan saja sekedar seruan untuk mengirimkan naskah bagi jurnal ini. Ia juga diharapkan dapat menjadi langkah kerja bersama di antara sejarawan dan ilmuwan lainnya memajukan pengetahuan dan ilmu sejarah di Indonesia.

Tabik.

Andi Achdian – Editor Pelaksana Jurnal Sejarah

 

The Fiery Trial (TFT) adalah buku yang mengesankan. Ia menampilkan kisah tentang kiprah Presiden ke-16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln, dalam serangkaian episode perang saudara dan pertarungan politik yang memecah pihak Selatan dan Utara terkait penghapusan perbudakan. Kebijakannya menghapuskan perbudakan membuat nama Lincoln terukir sebagai salah satu negarawan terbesar Amerika Serikat. Meski penulisnya secara terbuka menyatakan simpati pribadi terhadap Lincoln, buku ini tetap merupakan biografi serius yang ditulis dengan sudut pandang kesarjanaan yang mendalam. Ia tidak jatuh menjadi sekedar glorifikasi individu dalam sejarah.

“Sesuatu yang menarik tentang Lincoln”, tulis Eric Foner, adalah “kemampuan pribadinya untuk terus berkembang”. Ini adalah titik tolak menarik yang mengingatkan pembaca buku ini untuk tetap menjaga kewarasan dalam memandang Lincoln sebagai pribadi yang penuh warna dibanding sekedar mengulang rangkaian mitos tentang Lincoln dalam penulisan sejarah Amerika. Terkait historiografi, jerat kesulitan bagi para sejarawan menulis sosok Lincoln disampaikan dengan menarik oleh Foner. “Para politisi, mulai dari kalangan konservatif sampai komunis, aktivis-aktivis hak sipil dan pendukung segregasi, anggota gereja Protestan dan kaum tak beragama, semua mengklaim bahwa Lincoln adalah milik mereka.” Jadi, sosok Lincoln akan selalu tampil dengan wajah berbeda tergantung siapa dan dari sudut pandang apa seseorang menulis tentangnya. “Kita menganggap mengenal Lincoln, karena saat melihat sosoknya, sesungguhnya kita sedang menemukan diri kita sendiri. Dalam kaitan ini Lincoln senantiasa relevan. Ia adalah sosok masa kini dalam hidup kita”, tulis Foner.

II

Eric Foner adalah sejarawan dengan fokus kajian pada periode perbudakan (periode abolisionis) dalam sejarah Amerika Serikat. Ia pernah menjabat sebagai ketua American Historical Association, dan mengajar di jurusan sejarah di Columbia University. Foner juga pernah menjadi murid Howard Zinn, sejarawan terkemuka AS, aktivis anti perang dan seorang sosialis, dengan buku berjudul A People’s History of the United, yang memecahkan rekor penjualan buku sejarah paling laris di AS mencapai lebih satu juta eksemplar. Seperti gurunya, Foner bukan sekedar seorang sejarawan yang disibukan dengan upaya mengejar karir profesional. Ia adalah pengajar sejarah dengan keyakinan bahwa “pengajaran yang baik terletak pada kepedulian yang tulus dan kemampuan menyampaikan kecintaan terhadap sejarah kepada para mahasiswa.” Ia juga seorang aktivis dan intelektual dengan kepedulian terhadap beragam masalah sosial dalam kehidupan kontemporer masyarakat Amerika Serikat.

Sebagai karya kesarjanaan, Fiery Trial tetap menyisakan ruang sejumlah pertanyaan. sejumlah pertanyaan untuk menjelajah lebih lanjut terhadap periode dan sosok yang dibahas. Ini adalah ciri buku yang baik. TFT menjadi ajang bagi Foner untuk menjelaskan tanpa rasa sungkan sosok Lincoln sebagai manusia biasa. Setiap peristiwa tampil dengan detail fakta yang kaya tanpa jatuh menjadi sekedar parade peristiwa dari serangkaian tindakan manusia. Dengan cara itu Foner menyuguhkan kepada pembacanya berbagai persoalan tentang bagaimana sikap seorang pemimpin terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Tidak dapat disangkal, sampai sekarang Lincoln telah dipandang sebagai sosok pembebas perbudakan dalam sejarah AS. Ada kenyataan yang dapat dipertanggungjawabkan dari pandangan itu, tetapi ada pula rangkaian mitos yang menyelimuti kesadaran sejarah orang Amerika tentang Lincoln. Foner menunjukkan bahwa sejak masa awal keterlibatannya dalam dunia politik, Lincoln bukan seorang pendukung emansipasi. Bahkan terdapat pandangan-pandangan pribadi Lincoln yang memiliki kecenderungan rasial dan diskriminatif terhadap warga kulit hitam. Foner juga menunjukkan bahkan sampai tahun-tahun awal Lincoln menjabat sebagai presiden AS, beberapa kebijakannya memiliki dampak merugikan para pendukung abolisionis yang menginginkan segera penghapusan perbudakan di AS saat itu.

Bagaimanapun Lincoln adalah politisi penuh perhitungan. Sepanjang periode perang saudara antara Unionis (mewakili kekuatan pemerintah federal dari pihak utara) dan Konfederasi (yang menginginkan pemisahan diri dan mempertahankan lembaga perbudakan di bagian selatan), desakan-desakan membuat kebijakan drastis dari kedua belah pihak mengalir tanpa henti. Lincoln bergeming. Ia memiliki kesadaran penuh bahwa “membuat sebuah kebijakan yang tidak dapat dijalankan hanya sekedar menunjukkan kelemahan pribadi dan membuka pintu serangan lawan-lawan politiknya.” Kesadaran itu pula yang membawa setiap kebijakan Linconl dalam garis pasang sejarah tanpa meninggalkan celah bagi lawan politiknya untuk menuntut kompromi atau mundur dari keputusan yang telah dibuat.

Gambaran itu bisa dilihat dari perkembangan yang terjadi sepanjang periode Perang Saudara. Apabila pada masa awal perang landasan moral peperangan berpijak pada persoalan “menjaga keutuhan” dari ancaman pemisahan diri negara bagiannya, memasuki periode akhir perang landasannya berkembang menjadi “perang membebaskan perbudakan.” Keputusan-keputusan Lincoln menjadi tonggak yang mengokohkan laju pergerakan tersebut. Apabila kebijakan-kebijakan Lincoln pada masa awal terkait masalah perbudakan berisi konsesi dan tawaran kepada pihak Konfederasi dan negara-negara bagian di selatan lainnya untuk “dengan sukarela mengakhiri perbudakan dengan kompensasi terhadap budak yang mereka bebaskan,” menjelang akhir perang Lincoln membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang menjadikan keputusan penghapusan total perbudakan dalam kehidupan masyarakat Amerika tanpa konsesi apapun.

Begitu juga dengan persoalan lain yang muncul seiring bergulirnya tuntutan penghapusan perbudakan. Meski orang-orang kulit putih dari pihak utara menginginkan penghapusan perbudakan, tetapi mereka juga tidak menginginkan keberadaan budak-budak kulit hitam yang telah dibebaskan dalam kehidupan masyarakat mereka. Agenda kolonisasi (seperti Haiti dan wilayah Karibia lainnya) menyiapkan tempat baru bagi pemukiman budak yang telah dibebaskan merupakan langkah yang paling diterima para politisi dan kalangan masyarakat kulit putih di utara dalam seruan anti perbudakan mereka. Seperti kebanyakan warga kulit putih lainnya, Lincoln pun berada dalam arus pemikiran ini. Sepanjang dua pertiga masa pemerintahannya ia mencanangkan agenda sebagai jalan keluar setelah penghapusan perbudakan. Sedikit perbedaan dalam visi Lincoln tentang kolonisasi adalah penempatan budak yang telah dibebaskan di koloni-koloni baru harus dilakukan secara “sukarela.”

Gagasan tentang kolonisasi terus mewarnai kebijakan Lincoln bahkan sampai ia menandatangani keputusan penghapusan perbudakan di AS. Bagaimanapun, seperti disampaikan Foner yang menegaskan aspek penting kenegarawanan Lincoln, visi pribadi dan kebijakan politik Lincoln selalu berubah. Namun, ini bukan sebuah perubahan yang menarik mundur langkah maju, tetapi sebuah perubahan yang memancang tiang-tiang yang kokoh untuk gerak maju sejarah tak tertahankan. Sampai akhir periode perang saudara, Lincoln meninggalkan ide kolonisasi dan memulai pandangan baru bahwa para budak yang dibebaskan akan tetap tinggal dan diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat.

III

Membaca buku ini memberi pintu pemahaman menarik tentang bagaimana seorang pemimpin membentuk wujud perkembangan sejarah dalam periode kekuasaannya. Kita pun dibuat sadar bahwa setiap orang bisa berbuat salah, termasuk para pemimpin yang paling bijak sekalipun. Persoalannya adalah apakah sepanjang periode kekuasaannya seorang pemimpin dapat terus melihat cahaya masa depan yang baik untuk negerinya, yang menjadikannya tetap menjadi seorang penumpang dari kereta sejarah yang terus melaju dalam perjalanan tanpa akhir.

Sebagai kata penutup, secara pribadi saya ingin menjadikan buku ini sebagai buah tangan para pemimpin dan tokoh politik di Indonesia kontemporer. Mengambil keputusan salah adalah tindakan manusiawi. Persoalannya adalah apakah seseorang menyadari kesalahannya dan terus memperbaiki diri untuk tetap bergerak bersama dalam kemajuan sejarah negerinya.

 

Sepanjang satu bulan terakhir, The Fiery Trial menjadi buku yang menemani perjalanan ulang-alik sebagai penumpang komuter KRL Jabodetabek dan pengantar tidur yang menyenangkan disela kegiatan rutin meninabobokan si orok yang kerap menuntut sebotol susu sebelum ia kembali tidur lelap.

Dalam banyak hal, saya merasa perlu berterimakasih terhadap Eric Foner yang telah menulis karya menarik ini. Melalui buku ini Foner berhasil mengajak saya untuk tetap fokus pada persoalan yang diuraikannya dengan menarik tentang Abraham Lincoln sebagai presiden ke-16 Amerika Serikat. Sesuatu yang menarik tentang Lincoln, tulis Foner, adalah kemampuan pribadinya untuk terus berkembang. Horison berpikirnya pun terus bergerak maju mengikuti gerak zaman.

Lincoln tampil dengan kapasitas itu menjadi negarawan dengan posisi unik dalam sejarah politik Amerika Serikat. “Para politisi, mulai dari kalangan konservatif sampai komunis, aktivis-aktivis hak sipil dan pendukung segregasi, anggota gereja Protestan dan kaum tak beragama, semua mengklaim bahwa Lincoln adalah milik mereka.” Foner lalu menambahkan catatan menarik sebagai sejarawan, “Kita menganggap mengenal Lincoln, karena saat melihat sosoknya, sesungguhnya kita sedang menemukan diri kita sendiri. Dalam kaitan ini Lincoln senantiasa relevan. Ia adalah sosok masa kini dalam hidup kita” (xv).

II

Eric Foner adalah sejarawan dengan fokus kajian pada periode perbudakan dalam sejarah Amerika Serikat. Ia pernah menjabat sebagai ketua American Historical Association, dan mengajar di jurusan sejarah di Columbia University. Foner adalah murid Howard Zinn, sejarawan terkemuka AS, sosialis dan aktivis anti perang, dengan karya berjudul A People’s History of the United, yang memecahkan rekor penjualan buku sejarah paling laris di AS.
Seperti gurunya, Foner bukan sekedar seorang sejarawan yang disibukan dengan upaya mengejar karir profesional. Ia adalah pengajar sejarah dengan keyakinan bahwa “pengajaran yang baik terletak pada kepedulian yang tulus dan kemampuan menyampaikan kecintaan terhadap sejarah kepada para mahasiswa.”* Ia juga seorang aktivis dan intelektual dengan kepedulian terhadap beragam masalah sosial dalam kehidupan kontemporer masyarakat Amerika Serikat.
Buku ini terus menyisakan sejumlah pertanyaan dan dorongan menjelajah lebih lanjut terhadap persoalan yang menjadi pokok bahasannya. Ini memang ciri sebuah buku yang baik. Mungkin saja penilaian ini relatif dan sangat tergantung pada siapa pembacanya. Namun, saya akan mengatakan bahwa setelah menghabiskan halaman demi halaman buku ini, beragam obsesi bergulir dalam benak pribadi. Ada sejumlah keinginan mengikuti cara Foner melukiskan sosok individu dalam sejarah. Lincoln tampil apa adanya. Foner pun menjelaskan tanpa rasa sungkan atau hasrat menjadikan manusia biasa menjadi mahluk setengah dewa. Setiap peristiwa tampil dengan detail fakta yang kaya–tanpa jatuh pada sekedar uraian peristiwa dan perbuatan–yang menjadikan masa lalu seperti peristiwa kemarin sore dengan pengaruh yang secara subyektif terasa dalam kehidupan hari ini.
Membaca buku ini membawa pada tamasya pandangan terhadap berbagai persoalan tentang bagaimana sikap seorang pemimpin terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Sekarang ini Lincoln telah menjadi sosok pembebas perbudakan dalam sejarah AS. Ada setengah kenyataan dan ada pula setengah mitos dalam kesadaran sejarah orang Amerika tentang Lincoln. Seperti yang ditunjukkan Foner, sejak masa awal keterlibatannya dalam dunia politik, Lincoln sesungguhnya bukan seorang pendukung emansipasi. Bahkan terdapat pandangan-pandangan pribadi Lincoln yang memiliki kecenderungan rasial dan diskriminatif terhadap warga kulit hitam. Foner menunjukkan gambaran ini bahkan sampai tahun-tahun awal Lincoln menjabat sebagai presiden AS. Beberapa kebijakan Lincoln selaku presiden juga memiliki aspek yang merugikan para pendukung abolisionis yang menginginkan segera penghapusan perbudakan di AS saat itu.
Foner menampilkan bahwa Lincoln adalah seorang politisi yang penuh perhitungan. Sepanjang periode perang saudara antara Unionis (mewakili kekuatan pemerintah federal dari pihak utara) dan Konfederasi (yang menginginkan pemisahan diri dan mempertahankan lembaga perbudakan di bagian selatan), desakan-desakan untuk membuat kebijakan drastis dari kedua belah pihak mengalir tanpa henti. Lincoln bergeming. Ia memiliki kesadaran penuh bahwa “membuat sebuah kebijakan yang tidak dapat dijalankan hanya sekedar menunjukkan kelemahan pribadi dan membuka pintu serangan lawan-lawan politiknya.” Bagaimanapun, seperti ditunjukkan Foner, apabila kita menilai seluruh kebijakan yang pernah dibuat Lincoln sepanjang periode jabatannya sebagai presiden, terdapat sebuah garis yang menggambarkan sebuah gerak maju dalam setiap kebijakan yang dibuatnya. Kebijakan yang dibuatnya pun utuh tanpa menyisakan kesempatan bagi lawan-lawan politik Lincoln untuk menekan mundur.
Apabila pada masa awal perang saudara landasan moral peperangan itu berpijak pada persoalan “menjaga keutuhan” dari ancaman pemisahan diri negara bagiannya, sampai periode akhir perang landasannya berubah menjadi “perang membebaskan perbudakan.” Dalam kaitan ini keputusan-keputusan Lincoln menjadi tonggak yang mengokohkan laju pergerakan tersebut. Apabila kebijakan-kebijakan Lincoln pada masa awal terkait masalah perbudakan berisi konsesi dan tawaran kepada pihak Konfederasi dan negara-negara bagian di selatan lainnya untuk “dengan sukarela mengakhiri perbudakan dengan kompensasi terhadap budak yang mereka bebaskan,” menjelang akhir perang Lincoln membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang menjadikan keputusan penghapusan total perbudakan dalam kehidupan masyarakat Amerika tanpa konsesi apapun.
Begitu juga dengan persoalan lain yang muncul seiring bergulirnya tuntutan penghapusan perbudakan. Meski orang-orang kulit putih dari pihak utara menginginkan penghapusan perbudakan, tetapi mereka juga tidak menginginkan keberadaan budak-budak kulit hitam yang telah dibebaskan dalam kehidupan masyarakat mereka. Agenda kolonisasi (seperti Haiti dan wilayah Karibia lainnya) menyiapkan tempat baru bagi pemukiman budak yang telah dibebaskan merupakan langkah yang paling diterima para politisi dan kalangan masyarakat kulit putih di utara dalam seruan anti perbudakan mereka. Seperti kebanyakan warga kulit putih lainnya, Lincoln pun berada dalam arus pemikiran ini. Sepanjang dua pertiga masa pemerintahannya ia mencanangkan agenda sebagai jalan keluar setelah penghapusan perbudakan. Sedikit perbedaan dalam visi Lincoln tentang kolonisasi adalah penempatan budak yang telah dibebaskan di koloni-koloni baru harus dilakukan secara “sukarela.”
Gagasan tentang kolonisasi terus mewarnai kebijakan Lincoln bahkan sampai ia menandatangani keputusan penghapusan perbudakan di AS. Bagaimanapun, seperti disampaikan Foner yang menegaskan aspek penting kenegarawanan Lincoln, visi pribadi dan kebijakan politik Lincoln selalu berubah. Namun, ini bukan sebuah perubahan yang menarik mundur langkah maju, tetapi sebuah perubahan yang memancang tiang-tiang yang kokoh untuk gerak maju sejarah tak tertahankan. Sampai akhir periode perang saudara, Lincoln meninggalkan ide kolonisasi dan memulai pandangan baru bahwa para budak yang dibebaskan akan tetap tinggal dan diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat.

III
Meski sudah ada lagi satu buku lain yang saya habiskan setelah membaca karya Foner, kepiawaian Foner sebagai sejarawan tetap meninggalkan jejak yang mengusik pikiran. Pertama, secara pribadi saya mencanangkan sebuah rencana pada suatu hari nanti untu menulis dalam gaya yang disampaikan Foner, terlepas siapa sosok penting yang akan menjadi pembahasan. Karya Foner menggarisbawahi sebuah adagium lama bahwa tidak ada yang abadi dalam perembangan sejarah selain perubahan itu sendiri.
Kedua, saya memandang buku ini layak menjadi buah tangan bagi para pemimpin politik di Indonesia saat ini. Kemampuan untuk “berubah” memang telah menjadi bagian penting dari tindakan seorang pemimpin dan politisi di berbagai belahan dunia. Namun, kita berharap bahwa perubahan itu mewakili gerak maju perubahan sejarah yang jauh lebih besar dari sosok individunya, bukan sekedar metode bertahan dalam panggung kekuasaan.