Peluncuran dan Diskusi Buku

 

 

Nusantara memiliki sejarah panjang dalam bidang sosial, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, meski usia Indonesia sebagai sebuah negara baru menginjak tahun ke-72.

Buku The Medical Journal of the Dutch Indies dan Desawarnana: Saduran Kakawin Negarakertagama untuk Bacaan Remaja merekam dua masa yang berbeda dalam sejarah Indonesia. Oleh sebab itu, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Perpustakaan Nasional dan Komunitas Bambu berupaya membahas kedua buku tersebut dan menempatkannya dalam konteks yang relevan bagi Indonesia di masa kini, melalui diskusi yang diselenggarakan pada:

Hari/tanggal      : Kamis, 16 November 2017

Waktu               : 10.00-15.00 WIB

Tempat             : Auditorium Lt. 2 Perpustakaan Nasional RI,

    Jalan Medan Merdeka No.11 Jakarta

Narasumber:

The Medical Journal of the Dutch Indies

  1. Sjamsuhidajat Ronokusumo (Komisi Ilmu Kedokteran AIPI)
  2. Hans Pols (University of Sydney)
  3. Gani Ahmad Jaelani (Universitas Padjajaran)
  4. Ravando Lie, M.A (Universitas Gadjah Mada)

Desawarnana: Saduran Kakawin Negarakertagama untuk Bacaan Remaja

  1. Mien A. Rivai (Penyadur, Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI)
  2. Toeti Heraty (Komisi Kebudayaan AIPI)
  3. Bambang Hidayat (Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI)
  4. Hasan Djafar (Universitas Indonesia)

RSVP: bit.ly/medicaljournal-desawarnana

 

Narahubung:

Anggrita (081280741074/info@aipi.or.id)

***

The Medical Journal of the Dutch Indies 1852-1942. A Platform for Medical Research membahas perkembangan dunia kedoteran pada masa kolonial, saat Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Buku ini menggunakan menggunakan Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI) sebagai sumber utama, yaitu jurnal kedokteran tertua di Hindia-Belanda yang terbit terkala sepanjang 1852-1942. Membahas berbagai isu kesehatan di Hindia Belanda, termasuk pola penyebaran penyakit, wabah penyakit berikut pencegahan dan penangannya, hingga perilaku para dokter di masa itu, GTNI merupakan sumber penting bagi penelitian tentang sejarah kedokteran serta sejarah Hindia Belanda.

Desawarnana: Saduran Kakawin Negarakertagama untuk Bacaan Remaja merupakan saduran dari karya mahsyur Mpu Prapanca yang menggambarkan pola dan corak kehidupan sosial, budaya, serta peradaban masyarakat Jawa abad XIV. Keterangan bergaya jurnalistik tersebut menggambarkan sejarah mengenai kelahiran raja, kehidupan istana, dan mitos-mitos yang dikemas menjadi kesatuan kisah yang menarik. Kakawin ini telah resmi masuk dalam daftar karya Memory of the World yang dikeluarkan UNESCO. Buku ini berupaya membuat kakawin tersebut menjadi lebih mudah dicerna dan dipelajari oleh generasi muda yang sedang mempelajari sejarah.

 

 

Catatan Awal Penerbitan Jurnal Sejarah Online

Kepekaan bibliografi, pemahaman terhadap historiografi dan karya tulis berdasarkan tinjauan kolega (peer review) adalah syarat pokok yang mencirikan seorang sejarawan profesional. Pandangan ini ditegaskan Abdurachman Soerjomihardjo dalam  tulisan pengantar di edisi perdana Jurnal Sejarah (Vol. 1 Tahun 1991).

Kesadaran itu pula yang mendorong Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) sebagai organisasi profesi sejarawan menerbitkan Jurnal Sejarah sebagai media komunikasi yang melengkapi syarat penting keahlian profesional mereka.

Bagaimanapun, proses ini tidak mudah. Sampai dua dekade setelah penerbitan edisi awal Jurnal Sejarah, proses peer-review yang melibatkan para sejarawan di bidang keahlian masing-masing masih belum bisa terlaksana secara ideal.

Meski bukan berarti tidak ada karya bermutu yang pernah terbit dalam Jurnal Sejarah edisi-edisi terdahulu (malah banyak tulisan-tulisan dengan gagasan segar di dalamnya), tetapi perkembangan yang ada saat itu terpaksa membawa arah penerbitan jurnal tersebut menjadi majalah ilmiah populer dibanding penerbitan bersifat akademis.

***

Ketiadaan sebuah jurnal yang mewakili perkembangan kemajuan studi sejarah dan profesionalisme sejarawan Indonesia menjadi perhatian utama kepengurusan baru MSI periode 2016-2021.  Agendanya bukan saja sekedar menghidupkan kembali media tersebut, tetapi juga meningkatkannya menjadi sebuah jurnal ilmiah yang menjadi tolok ukur perkembangan kajian sejarah Indonesia.

Ada tiga alasan penting yang melatari keputusan ini.

Pertama adalah kenyataan bahwa studi sejarah Indonesia telah mengalami perkembangan pesat dibanding dua dekade silam.

Kedua, pada tingkat pendidikan pasca-sarjana, para calon sejarawan telah diwajibkan menulis sebuah artikel ilmiah di jurnal yang terakreditasi secara nasional dan internasional.

Ketiga, peraturan mutakhir tentang jurnal yang harus tersedia secara online memberikan kemudahan untuk memangkas biaya terbit yang harus dikeluarkan pengelola.

Keseluruhan latar belakang ini pada akhirnya membentuk optimisme bagi pengurus MSI untuk  meningkatkan Jurnal Sejarah menjadi sebuah jurnal akademis yang terakreditasi secara nasional dan internasional.

Keyakinan ini semakin kuat dengan dukungan para sejarawan tentang Indonesia di luar Indonesia. Kesediaan mereka sebagai reviewer internasional disertai pula keinginan tulus membantu para sejarawan muda di Indonesia mengembangkan karir profesionalnya.

Beberapa pernyataan yang disampaikan menyampaikan dengan nada haru bahwa pada akhirnya, “Negeri sebesar Indonesia ini pada akhirnya (meski sangat terlambat) memiliki sebuah terbitan sejarah berbasis peer-review on their own” tulis seorang reviewer dalam tanggapannya.  Reviewer lainnya menyatakan bahwa penerbitan ini menjadi tanda  kesiapan para sarjana sejarah Indonesia “memasuki gelanggang  internasional”.

Selain itu, upaya menjadikan Jurnal Sejarah sebagai jurnal ilmiah dilandasi pula oleh kebutuhan saat ini  untuk menjadikan karya-karya tulis para sejarawan Indonesia masuk dalam sistem pengindeksan yang diakui secara internasional.

***

Keseluruhan dukungan yang muncul menepis sejumlah keraguan dari rangkaian pertanyaan berikut: Apakah para sarjana di Indonesia bersedia  menulis di sebuah jurnal tanpa dibayar selain keinginan berbagi dan mengembangkan pengetahuan sejarah? Apakah para sejarawan Indonesia bersedia menyumbangkan karya tulis mereka untuk mengisi jurnal yang masih dalam tahap persiapan menjadi jurnal terakreditasi? Apakah para penulis di Indonesai bersedia menulis sebuah naskah yang tidak sekedar menanggapi peristiwa-peristiwa aktual yang mendongkrak popularitas, tetapi lebih mewakili produk kesarjanaan mewakili bidang studi penulisnya?

Melalui penerbitan Jurnal Sejarah, tim editorial berharap generasi baru sejarawan Indonesia bersedia turut serta mendorong kemajuan pengetahuan sejarah dan kajian sejarah di Indonesia . Semua tergantung pada kerja kolegial, kritisisme, pertukaran informasi dan tanggapan  sejawat sebagai landasan penting perkembangan pengetahuan sejarah. Hanya dalam iklim seperti ini kemajuan ilmu sejarah di Indonesia dapat dilakukan.

Sebagai langkah awal memulai tradisi ini, Jurnal Sejarah mengundang para peneliti, pengajar, dan mahasiswa pasca-sarjana di bidang sejarah dan sarjana dalam rumpun kajian humaniora dan ilmu sosial untuk turut menyumbang tulisan  dalam edisi penerbitan Jurnal Sejarah Vol. XV No. 1 Tahun 2017.

***

Memulai adalah hal mudah. Menjaga dan memelihara pekerjaan yang telah dimulai untuk terus berlangsung adalah perkara lain. Undangan menulis ini dengan demikian bukan saja sekedar seruan untuk mengirimkan naskah bagi jurnal ini. Ia juga diharapkan dapat menjadi langkah kerja bersama di antara sejarawan dan ilmuwan lainnya memajukan pengetahuan dan ilmu sejarah di Indonesia.

Tabik.

Andi Achdian – Editor Pelaksana Jurnal Sejarah