Mona Lohanda (4 November 1947 – 16 Januari 2021)

February 13, 2021 | Admin

Agung Ayu Ratih Astrid (Peneliti Sejarah)

“Kita sendiri membuat sejarah negeri ini terlupakan sebagai kekuatan yang diperhitungkan dan diminati, bahkan diincar oleh banyak kekuatan asing,” kata Mona. Perempuan Cina Benteng ini salah satu representasi terbaik sejarawan yang Indonesiawi. Sejak masih mahasiswi ia sudah menekuni sejarah Indonesia dan mengolah sumber di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Hasil riset-risetnya tentang sejarah Batavia dan kaum Tionghoa yang diterbitkan dalam bentuk buku, bab buku, maupun artikel menjadi acuan berbagai kalangan di dalam dan di luar negeri. Namun, yang tak terhitung nilainya adalah pengetahuan ensiklopedik Ibu Mona tentang bidang yang ia tekuni dan arsip kolonial yang dia kenali dengan teramat baik.

Hampir 50 tahun Ibu Mona bekerja untuk sejarah dan arsip Indonesia. Dengan suaranya yang lantang dan bahasa Indonesia yang rapih, Ibu Mona dapat bercerita dan memberi penjelasan panjang tentang bahan-bahan yang ia tekuni tanpa jeda dan hampir sepenuhnya di luar kepala.

Dalam setiap ujarannya terdengar kecintaan yang besar terhadap pekerjaannya, juga terhadap Indonesia. Seperti yang ia katakan, “Kalau bekerja, apa pun yang Anda kerjakan, bekerjalah dengan hati. Kalau dengan hati, Anda ngga melihat yang lain-lain. ‘Ini saya suka. Saya mau tahu’. Kan gitu kan?”Lewat kerja sepenuh hati, kesiapan membantu siapa saja, dan tidak sibuk memburu-buru pengakuan dari khalayak ramai, Ibu Mona ternyata berhasil menguasai dua bidang yang padat suara laki-laki : sejarah dan arsip.

Kepergiannya yang segera dan tiba-tiba adalah kehilangan besar bagi perempuan, sejarah, dan Indonesia. Terimakasih banyak atas sumbangsihnya, Bu.

Selamat Jalan!