Undangan Menulis Jurnal Sejarah Vol 4/1 Tahun 2021

February 6, 2021 | Admin
(Diah Yulianti – 1997 – Mereka Putih Datang dan Pergi (110×70), diambil dari arsip IVAA. http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/diah-yulianti)

Pencapaian karya-karya sejarawan mengenai sejarah perempuan Indonesia dapat ditelusuri jejaknya dalam historiografi. Namun, sayangnya, kuantitas tulisan mengenai sejarah perempuan masih banyak kekurangan dari berbagai aspek. Hal ini dapat ditandai dari tema-tema yang dihasilkan dalam sejarah perempuan yang masih kurang beragam. Karya-karya mengenai sejarah perempuan yang lebih menonjol adalah dalam hal gerakan perempuan (Veerde-de Stueres, 2008; Wierenga, 1999; Suryakusuma, 2011). Selain itu, perspektif yang dihadirkan dalam tulisan sejararah perempuan masih banyak yang menonjolkan peranan atau keterlibatan perempuan di ranah publik, ketokohan, serta kelembagaan. Masih sangat sedikit untuk membincangkan karya yang lebih bersifat membicarakan mengenai bagaimana para perempuan ditulis karena beragam persoalan yang masih terus hadir dalam kehidupan perempuan saat ini seperti isu kelas, ras, kesehatan, adat hingga seksualitas. Meski penulisan sejarah ke arah semacam itu sudah mulai muncul tahun 1980an (Stoler,1995), sayangnya penulisan sejarah perempuan semacam ini tidak menjadi arus utama dalam historiografi perempuan.

Hal menarik dari kajian kajian-kajian yang selama ini dihasilkan memantik pertanyaan pertama, apakah membincangkan sejarah perempuan harus selalu identik dengan membincangkan sejarah pergerakan, sejarah organisasi, sejarah ketokohan, serta kekuasaan yang merupakan cara pandang/ perspektif masih berkutat dalam ideologi maskulin? (Pradadimara, 2019) kedua, banyak penarasian sejarah perempuan selama ini yang masih belum mengalami dekolonisasi. Penulisan mengenai perempuan dalam sejarah masih banyak yang meneruskan imajinasi sejarah perempuan yang digambarkan pada masa kolonial, ia tidak dikritisi atau ditulis ulang dengan Indonesiasentris sekaligus perempuansentris, namun justru dilanjutkan paska kemerdekaan (Rahayu, 2007).

Sehingga menarik untuk memantik pertanyaan lanjutan apakah sejarah perempuan harus selalu berbicara mengenai gerakan perempuan? Ataukah membincangkan sejarah perempuan adalah membincangkan perempuan yang berada di garda peperangan? Apakah perempuan dipotret karena menonjol di bidang politik maupun publik belaka? Tidak adakah ruang mengenai sejarah perempuan di bidang yang lain misalnya kehidupan para perempuan di ranah domestik, perempuan dalam kesehariannya, perempuan dengan budaya perempuannya seperti kajian mengenai kehidupan profesi perempuan, perawat di Indonesia, para guru perempuan, mama-mama adat, dst?

Perbincangan ketegangan sejarah perempuan tarik ulur dalam beberapa pertanyaan. Apa sajakah kategorisasi yang menyangkut sejarah perempuan? Apa sajakah ruang lingkup sejarah perempuan?Apakah tulisan sejarah adalah tulisan sejarah yang harus ditulis oleh sejarawan perempuan belaka? Apakah kajiannya harus tentang perempuan di masa lalu? Apakah ia bisa ditulis bukan tentang perempuan dan bukan oleh perempuan tapi mengoperasikan perspektif perempuan? lalu bagaimanakah sejarah perempuan ditulis selama ini? apa saja karya yang menandai perkembangannya? Adakah kemajuan yang signifikan ataukah justru stagnan? Rangkaian pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang acapkali sering muncul dan akan terus menjadi perbincangan dalam historiografi sejarah perempuan.

Dalam edisi 4 Nomor 1 Tahun 2021, Jurnal Sejarah mengundang para sejarawan dan peneliti dalam rumpun pengetahuan sosial dan humaniora untuk membincangkan historiografi sejarah perempuan dalam tiga turunan tema sebagai berikut:

  1. Kritik historiografi. Secara umum, tema ini akan mengkhususkan untuk melihat sejauhmana historiografi sejarah perempuan saat ini berkembang dan berjalan. apakah benar sejarah perempuan yang ada saat ini masih nir-perspektif perempuan? Lalu, bagaimanakah seharusnya sejarah perempuan ditulis? Pada bagian ini, perdebatan sejauhmanana historiografi sejarah dihasilkan, dan bagaimana ideologi yang bekerja dalam historiografi selama ini akan memberikan gambaran mengenai sejarah perempuan yang hadir dalam narasi selama ini. Kritik-kritik terhadap historiografi sejarah perempuan tentunya akan membangun menjadi lebih baik terhadap corak historiografi perempuan kedepan.
  2. Ruh dari historiografi adalah metodologi penulisan sejarah perempuan. Metodologi berkaitan dengan bagaimana penulisan sejarah perempuan saat ini yang sedang dikerjakan oleh para peneliti. Perspektif apakah yang tepat untuk menulis sejarah perempuan? Teori-teori apa sajakah yang dapat berguna dalam menulis sejarah perempuan? Kata kuncinya, adakah perspektif baru yang digunakan oleh para peneliti dan penulis sejarah perempuan? Misalnya saja dengan tema-tema yang dapat dikerjakan, bisakah perspektif perempuan menjadi alat analisisnya?
  3. Bagaimana perjalanan historiografi perempuan telah mencapai bangunan historiografi perempuan. Apa sajakah penanda-penanda dari karya-karya sejarah perempuan? Studi mengenai karya bibliografi adalah hal yang dapat dikerjakan dalam turunan tema ini.

Redaksi juga menerima artikel yang ditulis tidak berkait dengan pokok-pokok di atas,  tetapi memiliki relevansi dengan tema yang diangkat. Tulisan dikirim paling lambat tanggal 30 Maret 2021, dan penulis dapat mengunggah artikel secara elektronik melalui laman ini